Selasa, 12 Oktober 2021

Perihal Kata | Perkenalan #0

-Perihal Kata

Serial laman blog berisi sekumpulan kata yang bersumber dari salah satu stranger paling berkesan yang pernah datang ke hidup Saya. Seluruh kata-kata yang terlampir di serial ini sepenuhnya milik orang yang namanya tertera pada setiap judul blog yang akan dipost

Rabu, 26 Agustus 2020

BLOG #9 | Jika Ia Berpihak Padaku

Jika ia berpihak kepadaku, aku tak tahu apa yang harus kukatakan selain ucapan rasa syukur dan terima kasih. Terima kasih kepada Allah SWT., atas kuasa-Mu karena ternyata takdirku adalah apa yang kuharapkan. Kepada Mama dan Bapakku, yang senantiasa mendukung serta mendoakan yang terbaik bagiku. Kepada guru dan teman-temanku yang telah membantuku baik dalam belajar maupun memberi semangat.


Jika memang begitu, Aku tak akan lupa perihal janji dan kesepakatan yang telah kubuat.


“Mah, Pak, lulus....”

Mungkin itu yang akan kuucapkan selepas menerima kata “Selamat” dari LTMPT. Tentu saja ditemani dengan tangis, haru, mungkin. Aku akan mengambil tangkapan layar laptopku dan memindahkannya ke HP. Tanpa alasan. Aku sudah terbiasa melakukan hal itu. Aku sempat berjanji untuk mengabarkan salah satu mutual twitterku, Kak Edwin. Tentu saja akan kukabari dia lewat pesan di whatsapp.


Kak Fafa. My-self proclaimed--support system selama kelas 12 sampai UTBK. Tempatku dulu berkeluh kesah ketika remedial biologi, dan lelah karena ngebuten. Tempatku untuk memamerkan hasil UH fisika dan nilai try out (yang bagus), dan merupakan salah satu orang yang membuat kimia menjadi sangat menyenangkan untuk dipelajari. Aku berani bertaruh, dia pasti bakal nelpon. Hahaha. Walaupun engagement kami udah tipis dan nyaris ilang, aku tetep seneng banget karena bisa ngabarin kabar bahagia ini sama Kak Fafa. Terlebih lagi, tandanya bentar lagi kita bakalan satu pulau, hehehe. Seneng deh.


Kak Faqih. Temen onlineku yang sekarang sudah kembali menjadi orang asing. Katanya kesepian kok malah ngilang toh kak:( mbuh lah yo wes. Mungkin akan kukabari juga, walaupun excitementnya akan berkurang dibanding dulu, waktu kita masih sering ngobrol. Padahal seru banget tau ngobrol sama dirimu. Sayang banget ternyata kamu malah milih buat jadi stranger lagi haha. Makasih udah ngajarin banyak hal juga. Satu hal yang paling kuingat, kehilangan seseorang atau sesuatu itu tak apa. Karena seiring berjalannya waktu, nanti akan datang orang-orang baru yang akan mengisi tempat yang semula kosong.


Guru-guruku di sekolah dan juga di Inten. Terima kasih untuk bu Itsna yang keren banget! Karena cerita Ibu, aku jadi semangat buat lanjutin kuliahku ke PTN di Jawa, terutama semangat buat jadi gajah mada muda.. hahaha! Terima kasih untuk Pak PG, Pak AX, kak CC, kak SS, Kak YN, Pak TM, dan semua guru Inten yang pernah mengajar di kelas ITA 511 dan ITA 04. Tanpa ajaran kalian, aku tidak akan bisa lulus.


Teman seperjuanganku. Ilona, Rino, dan Revand. Makasih karena telah menjadi teman ambisku yang seru banget di inten. I wished the best of luck for all of us. Khususnya Ilona. Teman sebangkuku selama di kelas 11 IPA 1. Aku seneng banget bisa jadi temanmu, Lon. Kau apa adanya dan hanya menjadi dirimu sendiri, itu hal yang baik. Walaupun terkadang ada sifatmu yang membuatku rasanya ingin menampol, tapi untunglah tak pernah jadi^-^. Aku juga bersyukur, selama berteman denganmu aku banyak belajar untuk keluar dari zona nyamanku, mulai dari pergi ke pesta ulang tahun Nada, sampai jalan-jalan angkatan IPA ke pantai, kalau kau ga ikut pasti aku juga ngga bakal punya pengalaman itu. Aku mengapresiasi pertemanan kita selama ini. Semua hal yang kita lakuin bareng, jalan-jalan ke MB2, makan seblak, ramen, steak, spageti, mie tarempa, Burger King, KFC, Little Taipei, nonton Joker, minum Chatime, dan banyak hal lainnya. Aku merasa senang saat bermain denganmu. Kuharap kita akan tetap menjadi teman walaupun nanti akan berpisah tempat kuliah. See you on top ya, Lon!


Faradilla! Tanpa Dilla, aku nggak akan se-update ini tentang dunia perambisan. Mulai dari informasi penting LTMPT yang selalu kami sambat-in, sampai teh-teh di ambisverse yang tumpah mulu kayak ember bocor. Dari status Whatsappnya Dilla aku belajar untuk selalu ngambil hikmah dari segala sesuatu yang terjadi. Aku juga belajar untuk terus meng-upgrade diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Ko keren, DIll! Semoga kita bisa tetap jadi teman juga sampai dewasa nanti, ya! See you on top, Dilla.


[update]

Ternyata, Ia belum berpihak padaku. Iya, aku nggak lulus SBMPTN tahun ini. Tapi tak apa, ketidaklulusanku tak akan memengaruhi rasa terima kasihku kepada Tuhan, orang tua, guru, serta semua teman telah kusebutkan di atas. Karena mereka menemaniku dalam proses dan usahaku selama ini, terlepas dari apakah akhirnya aku lulus atau tidak. Bagaimanapun, aku akan tetap berterima kasih sama mereka semua karena telah membantuku berprogress.

BLOG #8 | Malam Sebelum Hari Pengumuman SBMPTN

 Aku mengakhiri hari. Istirahat, rencanaku. Sampai akhirnya aku bertemu dengan sebuah playlist relaxing music. Instrumentasi piano yang indah dengan iringan suara rintik hujan. “Menenangkan hati.” pikirku. Aku mulai memejamkan mata dan memeluk guling sembari menghadapkan badanku ke sebelah kanan. Siapa sangka alunan indah tadi perlahan melembutkan hatiku. Aku memikirkan bagaimana kira-kira hasil SBMPTN besok. Bagaimana ya, kalau ternyata besok aku gak lulus.


“Tak apa. Kamu sudah berusaha dengan keras. Mengetahui hal itu seharusnya sudah cukup.”

“Nanti, jangan tanya aku, ya?”


Seharusnya kukatakan itu kepada beberapa temanku, yang mungkin akan penasaran dengan hasil SBMPTNku nanti. Namun, aku harap mereka tidak bertanya padaku. Karena, jika hubungan kita baik, aku akan dengan senang hati mengabari kabar bahagiaku kok.


Untuk Kak Fafa, Kak Ed, Kak Bas, Kak Cici, dan Acha.. Kalau memang kata “Selamat” yang kuterima nanti, aku pasti kabarin kalian kok. Tapi, kalau udah satu jam lebih  aku belum ngabarin apa-apa, jangan tanya, ya. Hm, in case kalian gak sadar dan tetap coba untuk ngehubungin aku di Whatsapp dan ternyata cuma centang satu, gapapa ya. Tandanya kata yang kuterima hari itu adalah kata “Semangat”, alih-alih “Selamat”. Kurasa aku tak cukup kuat untuk membuka HP jika memang itu yang terjadi. Mungkin eh pasti, aku sedang menangis. Tapi, kalian tak perlu khawatir. Karena tak apa, aku pun mempersilakan diriku untuk menangis.


Untuk teman-teman seperjuanganku, Dilla, Faras, Lena, Yina, Lona, dan yang lainnya, jika nanti kalian menanyakan hasilnya padaku, jika kalian lulus dan ternyata aku membaca pesan dari kalian saat itu juga, tandanya aku juga lulus. Namun jika ternyata pesan dari kalian centang satu dan tak kunjung kubaca, biarlah seperti itu. Aku hanya tidak ingin membaca lebih banyak kata “Semangat”. 


Kurasa seperti itu lebih baik.

Semoga pada akhirnya, kita bisa saling berbagi kabar bahagia, ya.



Salam hangat, 

Dea.


[update]

Ternyata aku belum ditakdirkan untuk berbagi kabar bahagia dengan kalian. Alih-alih, aku sudah mendengar kabar bahagia kalian semua. Untuk teman-temanku yang lulus, selamat ya! Usaha kalian bisa terbayarkan saat itu juga. Untuk teman-temanku yang masih akan berjuang denganku, aku harap kita bisa segera mendengarkan kabar bahagia juga, seperti mereka, ya! Tetap bertahan dan selalu semangat untuk menjadi versi terbaik dari diri kalian, apapun yang terjadi, ya? ^^


Kamis, 16 Juli 2020

Insecure

Ah, kacau.
Pikiranku sedang kacau.
Apakah normal jika sampai merasa bersalah karena merasa kenyang setelah makan nasi goreng dan soto dari tetangga? Bukankah seharusnya aku bersyukur?


***

"Insecure"
Perasaan kacau ini dimulai dari terbacanya kata itu di kolom komentar live Instagram seseorang yang baru saja kubuka.

"Gila, dia pinter banget!"
"Aduh ... aku insecure boleh gak sih?"
"Kok bisa ya orang pinter banget kayak gini?"
"***nation!" (sebutan bagi pengagum sang narasumber live tersebut.)

Begitulah kira-kira gambaran kolom komentar--live Instagram-- seorang influencer dan narasumbernya.

Aku memang tidak berencana untuk menonton livenya. Saat itu hanya sekadar ingin melihat euforia dan suasana saja. Bagian yang sedang ditayangkan adalah ketika sang narasumber sedang bercerita tentang saudara-saudaranya yang sudah sukses dalam menggeluti kariernya di bidang IT(Information and Technology).

"Keren", kataku. Lebih tepatnya kata semua orang yang sedang mendengarkan ceritanya.

Seseorang meninggalkan komentar "Kok bisa ya kakak-kakak orang pada keren-keren?". Kubaca dengan nada insecure. Kemudian terbesitlah di kepalaku "Haha lahh aku? Kerjaannya berantem mulu tiap hari sama Adil-adikku-."

**

Rasanya waktu yang tersisa buat UTBK nggak sebanyak itu sampe cukup buat dipake insecure dan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Saatnya kembali ngerjain soal! Semangat~







Senin, 04 Mei 2020

BLOG #7 | Self BirthDay Letter - Pendewasaan

18 Tahun.

Sebenarnya, aku nggak bisa mastiin apakah sekarang udah jam 12 atau belum(gak bisa lihat jam), tapi gak papa deh biarin aja.

Akhirnya aku nggak 17 tahun lagi! Ah, maksudku akhirnya aku lepas dari angka itu. Nggak tahu kenapa hahaha pengen aja bersykur. Sekiranya, ini yang kutulis di buku harianku saat itu.

Umur yang ke-18 tahun menandakan sesuatu; awal mulanya pendewasaan(bagi diriku), semakin besarnya tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan.

"Aku bangga pada diriku!" ujarku malam itu. Jika kau bertanya mengapa, kurasa karena aku sadar, akan kuatnya diriku menjalani hidup selama ini. "Ah, paling masalahnya kecil, apasih masalahnya anak 17 tahun? Lebay!". Mungkin beberapa dari kalian berpikir seperti itu. Tak apa, aku maklumi. Memang masalah-masalah yang kuhadapi saat itu kurasa merupakan masalah yang sangat sepele di mata orang lain, tapi kembali kepada prinsip--tiap orang punya kpasitas diri yang berbeda-beda--, dalam berpikir dan mengalami sesuatu.

Ada banyak sekali kisah tangis yang kulewati selama beberapa tahun terakhir;masa-masa SMP dan SMA. Mulai dari lingkungan yang kurang mendukung, proses belajar yang kurang lancar, dan beberapa hal lain yang tidak bisa kuingat semuanya.

Tapi, lihat. Ternyata aku berhasil bertahan! Kenapa ya? -entahlah-
Tentu saja ada banyak faktor yang membuatku bisa bertahan sampai saat ini. Untuk semua faktor itu, kuucapkan terima kasih banyak.

Tak lupa pula, aku ingin berterima kasih kepada diriku sendiri.
Terima kasih karena tetap bertahan sampai saat ini.

Sabtu, 13 Juli 2019

Questions

Just questions that i really want to ask for some people in my (3rd grade in JHS6) :

"Why? I know you dont like me. thats why I didn't come near you. I dont have any interactions with you, I respect your opinions about me. why can't you respect me? Why can't you leave me alone? Let me be myself that will never bother you(not even care about what you guys do). What have I done to you?"



#BLOG 6 | Beberapa Orang Jahat di Kelas 9 Ku

Ya, saat kuceritakan tentang mimpiku untuk bisa berkuliah di ITB, aku sedikit menyenggol tentang beberapa orang yang pernah membuat mentalku down saat aku berada di kelas 9 dulu.

Mereka itu adalah beberapa anak di kelasku yang bisa dianggap '1 gang'.
Apa yang membuat mereka datang ke kehidupanku? apa yang mereka lakukan padaku? Apa dampak perbuatan mereka terhadapku?

Sedari dulu, aku selalu menganggap diriku anak yang peka terhadap lingkungan dan perasaan yang ada di sekitarku. Muncullah jiwa-jiwa peka ku yang mengatakan kalau '1 gang' itu datang hanya untuk menertawakanku, menjadikanku bahan ejekan mereka, menganggapku alay dan menjijikkan.

Mereka ada di titik dimana saat hasil undi tempat duduk keluar, mereka yang duduk di sampingku sengaja menukar angka yang mereka dapat. (Bisa karena sebagian dari mereka adalah perangkat kelas). Titik lainnya, saat hasil undi kelompok Bahasa Indonesia keluar dan ada yang sekelompok denganku, Ia kejang-kejang dan terasa sangat kecewa.

like, what the hell? what's freaking wrong with you? i'm not gonna eat you up or kill you when we're gonna make our task.

Saat itu aku bingung setengah mati, tak ada yang bisa ku lakukan selain kembali ke tempat dudukku dan menangis, aku nangis karena bingung kenapa reaksi dia ok parah banget, emang aku kenapa? itu yang ada di pikiranku.))

Orang-orang Brangsac itulah yang membuat mentalku down setiap kali berangkat ke sekolah. Mereka juga yang membuat diriku semakin gak percaya diri. Mereka yang buat aku sampai nangis setiap pulang sekolah dan minta dipindahin dari sekolah favorit itu padahal bentar lagi udah mau UN.

Buat kalian semua, Aku masih ingat rasanya sampai hari ini, mungkin sampai kapanpun aku masih akan ingat. Bukannya aku mau jahat tapi aku gak tau cara maafin kalian itu gimana. Lagian kita gak bakalan ketemu lagi, kok. itu di benakku.

Gara-gara mereka, Aku selalu sakit hati setiap kali ingat kalau hari-hari harus kulewati tidak bisa tanpa menginjakkan kaki di kelas itu. Alhasil, jelek lah nilaiku, di tambah beberapa orang dari mereka mencontek saat ujian sekolah dan UN. Gila kalian we.

Tapi terimakasih, karena kalian aku jadi selalu punya niat dan prinsip kalau aku harus berusaha lebih keras dan wajib untuk buktiin ke mereka dan diriku sendiri, kalau aku layak untuk bahagia. Salat satunya dengan menjadi orang sukses dan membahagiakan kedua orangtuaku.

Sekarang aku sedang duduk di kelas 2 SMA. Orang-orang jahat ituu tidak ada di sekitarku, hanya 2 orang dari mereka yang kebe-freaking-tulan sekelas denganku saat ini. Tapi tak parah. Mungkin karena mereka tak bersama '1gang' nya yang sekolah di tempat lain. Hahaha

Perihal Kata | Perkenalan #0

-Perihal Kata Serial laman blog berisi sekumpulan kata yang bersumber dari salah satu stranger paling berkesan yang pernah datang ke hidup S...